Senin, 22 Juni 2015

Biografi Bacharuddin Jusuf Habibe (B.J. Habibie)



Biografi Bacharuddin Jusuf Habibe (B.J. Habibie)


          Prof. DR. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie (Bapak Teknologi Indonesia) atau yang lebih dikenal sebagai B.J. Habibie, adalah anak keempat dari delapan bersaudara, pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie dan R.A. Tuti Marini Puspowardojo.  Beliau lahir pada tanggal 25 Juni 1936 di Parepare, Sulawesi Selatan. Masa kecilnya dilalui  bersama saudara-saudaranya di Parepare. Sifat tegas berpegang pada prinsip telah ditunjukkan Habibie sejak kanak-kanak. Habibie mempunyai kegemaran menunggang kuda dan membaca. Beliau dikenal sangat cerdas ketika masih menduduki sekolah dasar. Namun pada 3 september 1950 ia harus kehilangan bapaknya yang meninggal dunia karena terkena serangan jantung saat ia sedang shalat Isya. Tak lama kemudian ibunya menjual rumah dan kendaraan lalu  pindah ke Bandung bersama dengan Habibie.
 Habibie pernah menuntut ilmu di Gouvernments Middlebare School. Di SMA, beliau mulai tampak menonjol prestasinya, terutama dalam pelajaran-pelajaran eksakta sehingga menjadi sosok favorit di sekolahnya.Pada tahun 1954 Ia belajar teknik mesin di Institut Teknologi Bandung. Dan pada1955-1965 ia mendapatkan beasiswa dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk melanjutkan kuliahnya di RWTH Aachen, Jerman Barat, di studi teknik penerbangan, spesialisasi konstruksi pesawat terbang karena mengingat pesan Bung Karno tentang pentingnya Dirgantara dan penerbangan bagi Indonesia. Musim liburan bagi beliau justru kesempatan emas yang harus diisi dengan ujian dan mencari uang untuk membeli buku. Sehabis masa libur, semua kegiatan disampingkan kecuali belajar. Berbeda dengan teman-temannya yang lain, mereka lebih banyak menggunakan waktu liburan musim panas untuk bekerja, mencari pengalaman dan uang tanpa mengikuti ujian. Berkat usaha kerasnya pada 1960 ia mendapat gelarDiplom Ingenieur, dari Technische Hochschule, Jerman dengan predikat Cum Laude(Sempurna) dengan nilai rata-rata 9,5. dan gelar Doktor Ingenieur pada 1965 dengan predikatSumma Cum Laude (Sangat sempurna) dengan nilai rata-rata 10 dari Technische Hochschule Die Facultaet Fuer Maschinenwesen Aachean.
Selama menjadi mahasiswa tingkat doktoral, Ia sudah mulai bekerja untuk menghidupi keluarganya dan biaya studinya. Setelah lulus, Ia bekerja di Messerschmitt-Bolkow-Blohm  atau MBB Hamburg (1965-1969) sebagai Kepala Penelitian dan Pengembangan pada Analisis Struktrur Pesawat Terbang, dan kemudian menjabat Kepala Divisi Metode dan Teknologi pada industri pesawat terbang komersial dan militer di MBB (1969-1973). Atas kinerja dan kebriliannya, 4 tahun kemudian, ia dipercaya sebagai Vice President sekaligus Direktur Teknologi di MBB periode 1973-1978 serta menjadi Penasihast Senior bidang teknologi untuk Dewan Direktur MBB (1978 ). Dialah menjadi satu-satunya orang Asia yang berhasil menduduki jabatan nomor dua di perusahaan pesawat terbang Jerman ini. Karir Habibie sudah sangat cemerlang bahkan Ia menyumbang berbagai hasil penelitian dan sejumlah teori untuk ilmu pengetahuan dan teknologi dibidang Thermodinamika, Konstruksi dan Aerodinamika. Beberapa rumusan teorinya dikenal dalam dunia pesawat terbang seperti Habibie FactorHabibie Theorem dan Habibie Method.
Pada awal 1960-an, musibah pesawat terbang masih sering terjadi karena kerusakan konstruksi yang tak terdeteksi. Kelelahan (fatique) pada bodi masih sulit dideteksi dengan keterbatasan perkakas. Titik rawan kelelahan ini biasanya pada sambungan antara sayap dan badan pesawat terbang atau antara sayap dan dudukan mesin. Kelelahan logam pun terjadi, dan itu awal dari keretakan (krack).Titik rambat, yang kadang mulai dari ukuran 0,005 mm itu terus merambat. Dunia penerbangan tentu amat peduli, apalagi saat itu pula mesin-mesin pesawat mulai berganti dari propeller ke jet. Potensi fatique makin besar. Habibie-lah yang kemudian menemukan bagaimana rambatan titik krack itu bekerja. Perhitungannya sungguh rinci, sampai pada hitungan atom-atomnya. Oleh dunia penerbangan, teori Habibie(Habibie Theorem ) ini lantas dinamakan krack progression. Dari sinilah Habibie mendapat julukan sebagai Mr. krack.
Sebelum titik krack bisa dideteksi secara dini, para insinyur mengantispasi kemungkinan muncul keretakan konstruksi dengan cara meninggikan faktor keselamatannya (SF). Caranya, meningkatkan kekuatan bahan konstruksi jauh di atas angka kebutuhan teoritisnya. Akibatnya, material yang diperlukan lebih berat. Untuk pesawat terbang, material aluminium dikombinasikan dengan baja. Namun setelah titik krack bisa dihitung maka derajat SF bisa diturunkan. Misalnya dengan memilih campuran material sayap dan badan pesawat yang lebih ringan. Porsi baja dikurangi, aluminium makin dominan dalam bodi pesawat terbang. Dalam dunia penerbangan, terobosan ini tersohor dengan sebutan Faktor Habibie.Faktor Habibie bisa meringankan operating empty weight (bobot pesawat tanpa berat penumpang dan bahan bakar) hingga 10% dari bobot sebelumnya. Bahkan angka penurunan ini bisa mencapai 25% setelah Habibie menyusupkan material komposit ke dalam tubuh pesawat. Dengan begitu, secara umum daya angkut pesawat meningkat dan daya jelajahnya makin jauh. Sehingga secara ekonomi, kinerja pesawat bisa ditingkatkan.
Pada tahun 1973, ia kembali ke Indonesia atas permintaan Presiden Soeharto. Ia pun diangkat menjadi penasihat pemerintah (langsung dibawah Presiden) di bidang Teknologi Pesawat Terbang dan Teknologi Tinggi hingga tahun 1978. Kemudian  ia diangkat menjadi Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek) dari 29 Maret 1978 hingga 16 Maret 1998, sekaligus merangkap sebagai Ketua Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Disamping itu Habibie juga diangkat sebagai Ketua Dewan Riset Nasional dan berbagai jabatan lainnya. Ia juga diangkat menjadi ketua umum ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia), pada masa jabatannya sebagai menteri. Pada tahun 1989, Suharto memberikan kekuasan lebih pada Habibie dengan memberikan kepercayaan Habibie untuk memimpin industri-industri strategis seperti PindadPAL, dan PT IPTN.

Wasiat Rasulullah Kepada Wanita

Biografi Bacharuddin Jusuf Habibe (B.J. Habibie)


          Prof. DR. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie (Bapak Teknologi Indonesia) atau yang lebih dikenal sebagai B.J. Habibie, adalah anak keempat dari delapan bersaudara, pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie dan R.A. Tuti Marini Puspowardojo.  Beliau lahir pada tanggal 25 Juni 1936 di Parepare, Sulawesi Selatan. Masa kecilnya dilalui  bersama saudara-saudaranya di Parepare. Sifat tegas berpegang pada prinsip telah ditunjukkan Habibie sejak kanak-kanak. Habibie mempunyai kegemaran menunggang kuda dan membaca. Beliau dikenal sangat cerdas ketika masih menduduki sekolah dasar. Namun pada 3 september 1950 ia harus kehilangan bapaknya yang meninggal dunia karena terkena serangan jantung saat ia sedang shalat Isya. Tak lama kemudian ibunya menjual rumah dan kendaraan lalu  pindah ke Bandung bersama dengan Habibie.
 Habibie pernah menuntut ilmu di Gouvernments Middlebare School. Di SMA, beliau mulai tampak menonjol prestasinya, terutama dalam pelajaran-pelajaran eksakta sehingga menjadi sosok favorit di sekolahnya.Pada tahun 1954 Ia belajar teknik mesin di Institut Teknologi Bandung. Dan pada1955-1965 ia mendapatkan beasiswa dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk melanjutkan kuliahnya di RWTH Aachen, Jerman Barat, di studi teknik penerbangan, spesialisasi konstruksi pesawat terbang karena mengingat pesan Bung Karno tentang pentingnya Dirgantara dan penerbangan bagi Indonesia. Musim liburan bagi beliau justru kesempatan emas yang harus diisi dengan ujian dan mencari uang untuk membeli buku. Sehabis masa libur, semua kegiatan disampingkan kecuali belajar. Berbeda dengan teman-temannya yang lain, mereka lebih banyak menggunakan waktu liburan musim panas untuk bekerja, mencari pengalaman dan uang tanpa mengikuti ujian. Berkat usaha kerasnya pada 1960 ia mendapat gelarDiplom Ingenieur, dari Technische Hochschule, Jerman dengan predikat Cum Laude(Sempurna) dengan nilai rata-rata 9,5. dan gelar Doktor Ingenieur pada 1965 dengan predikatSumma Cum Laude (Sangat sempurna) dengan nilai rata-rata 10 dari Technische Hochschule Die Facultaet Fuer Maschinenwesen Aachean.
Selama menjadi mahasiswa tingkat doktoral, Ia sudah mulai bekerja untuk menghidupi keluarganya dan biaya studinya. Setelah lulus, Ia bekerja di Messerschmitt-Bolkow-Blohm  atau MBB Hamburg (1965-1969) sebagai Kepala Penelitian dan Pengembangan pada Analisis Struktrur Pesawat Terbang, dan kemudian menjabat Kepala Divisi Metode dan Teknologi pada industri pesawat terbang komersial dan militer di MBB (1969-1973). Atas kinerja dan kebriliannya, 4 tahun kemudian, ia dipercaya sebagai Vice President sekaligus Direktur Teknologi di MBB periode 1973-1978 serta menjadi Penasihast Senior bidang teknologi untuk Dewan Direktur MBB (1978 ). Dialah menjadi satu-satunya orang Asia yang berhasil menduduki jabatan nomor dua di perusahaan pesawat terbang Jerman ini. Karir Habibie sudah sangat cemerlang bahkan Ia menyumbang berbagai hasil penelitian dan sejumlah teori untuk ilmu pengetahuan dan teknologi dibidang Thermodinamika, Konstruksi dan Aerodinamika. Beberapa rumusan teorinya dikenal dalam dunia pesawat terbang seperti Habibie FactorHabibie Theorem dan Habibie Method.
Pada awal 1960-an, musibah pesawat terbang masih sering terjadi karena kerusakan konstruksi yang tak terdeteksi. Kelelahan (fatique) pada bodi masih sulit dideteksi dengan keterbatasan perkakas. Titik rawan kelelahan ini biasanya pada sambungan antara sayap dan badan pesawat terbang atau antara sayap dan dudukan mesin. Kelelahan logam pun terjadi, dan itu awal dari keretakan (krack).Titik rambat, yang kadang mulai dari ukuran 0,005 mm itu terus merambat. Dunia penerbangan tentu amat peduli, apalagi saat itu pula mesin-mesin pesawat mulai berganti dari propeller ke jet. Potensi fatique makin besar. Habibie-lah yang kemudian menemukan bagaimana rambatan titik krack itu bekerja. Perhitungannya sungguh rinci, sampai pada hitungan atom-atomnya. Oleh dunia penerbangan, teori Habibie(Habibie Theorem ) ini lantas dinamakan krack progression. Dari sinilah Habibie mendapat julukan sebagai Mr. krack.
Sebelum titik krack bisa dideteksi secara dini, para insinyur mengantispasi kemungkinan muncul keretakan konstruksi dengan cara meninggikan faktor keselamatannya (SF). Caranya, meningkatkan kekuatan bahan konstruksi jauh di atas angka kebutuhan teoritisnya. Akibatnya, material yang diperlukan lebih berat. Untuk pesawat terbang, material aluminium dikombinasikan dengan baja. Namun setelah titik krack bisa dihitung maka derajat SF bisa diturunkan. Misalnya dengan memilih campuran material sayap dan badan pesawat yang lebih ringan. Porsi baja dikurangi, aluminium makin dominan dalam bodi pesawat terbang. Dalam dunia penerbangan, terobosan ini tersohor dengan sebutan Faktor Habibie.Faktor Habibie bisa meringankan operating empty weight (bobot pesawat tanpa berat penumpang dan bahan bakar) hingga 10% dari bobot sebelumnya. Bahkan angka penurunan ini bisa mencapai 25% setelah Habibie menyusupkan material komposit ke dalam tubuh pesawat. Dengan begitu, secara umum daya angkut pesawat meningkat dan daya jelajahnya makin jauh. Sehingga secara ekonomi, kinerja pesawat bisa ditingkatkan.
Pada tahun 1973, ia kembali ke Indonesia atas permintaan Presiden Soeharto. Ia pun diangkat menjadi penasihat pemerintah (langsung dibawah Presiden) di bidang Teknologi Pesawat Terbang dan Teknologi Tinggi hingga tahun 1978. Kemudian  ia diangkat menjadi Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek) dari 29 Maret 1978 hingga 16 Maret 1998, sekaligus merangkap sebagai Ketua Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Disamping itu Habibie juga diangkat sebagai Ketua Dewan Riset Nasional dan berbagai jabatan lainnya. Ia juga diangkat menjadi ketua umum ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia), pada masa jabatannya sebagai menteri. Pada tahun 1989, Suharto memberikan kekuasan lebih pada Habibie dengan memberikan kepercayaan Habibie untuk memimpin industri-industri strategis seperti PindadPAL, dan PT IPTN.

Minggu, 21 Juni 2015

GGS; Ganteng Ganteng Stupid?



GGS; Ganteng Ganteng Stupid?
hewan. Sebut aja ‘Ganteng Ganteng Serigala’, lalu muncul ‘Manusia Harimau’, mungkin bulan depan bakal muncul ‘Ternyata Aku Aslinya Hamster’, dan nggak tahu bakal berapa banyak lagi hewan yang akan terpaksa menanggung malu karena namanya ‘disinetronkan’.
Sobat gaulislam, sinetron-sinetron seperti yang sudah disebutkan di atas itu kebanyakan isinya cuma tentang pacaran, rebutan cewek/cowok, bukannya belajar di sekolah malah cinta-cintaan, sampai menjurus pada kemusyrikan. Lho kok kemusyrikan sih? Iya lah, karena Allah Ta’ala itu nggak pernah menciptakan manusia dalam bentuk serigala yang bisa berubah bentuk menjadi manusia. Makhluk yang diciptakan Allah untuk meninggali bumi ini dengan beban hukum, yakni manusia dan jin. Allah Ta’ala berfirman, “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS adz-Dzaariyaat [51]: 56)
Nah kan, jelas banget dalam ayat tersebut nggak ada disebut-sebut manusia serigala ataupun manusia harimau? Islam melarang keras pemeluknya untuk mempercayai hal-hal klenik seperti itu.
Konten lainnya pun nggak kalah ngeselin. Seperti yang kita semua udah tahu nih, yang namanya sinetron itu pasti nggak bakal bisa lepas dengan mengumbar percintaan cewek-cowok yang belum mahram, bahkan kadang belum cukup umur. Parahnya lagi nih, cinta-cintaannya tuh udah nggak kenal tempat. Sekolah yang harusnya adalah tempat menuntut ilmu, malah dijadikan tempat paling asyik untuk pacaran. Lihat aja di GGS, 80% latar belakang ceritanya ada di sekolah. Betul nggak? Hayoo… yang sering nonton pasti tahu.

Ngerusak cara pandang dan akhlak
Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Sebenarnya kalian nyadar nggak sih, kalau sinetron-sinetron yang ada saat ini bisa merusak akhlak dan mengobrak abrik mindset kita? Kalian tahu nggak, banyak banget lho penonton sinetron-sinetron itu dari kalangan anak-anak! Bahkan anak-anak yang belum baligh aja udah dicecokin dengan hal hal yang begituan.
Di dalam sinetron, kita dilihatin gimana orang sukses itu: punya fisik yang proporsional, mobil mewah, pacar cantik/ganteng, masuk sekolah favorit, dan punya kekayaan yang melimpah, yang nggak jelas juga datangnya dari mana. Masyarakat Indonesia diajak berpikir instan bahwa yang namanya sukses itu ya seperti apa yang udah disebutin di atas. Kalau belum seperti di atas, maka kalian belum sukses. Waduh!
Jelas ini bertentangan banget dengan nilai Islam, bahwa kesuksesan seseorang itu diukur dari tingkat ketakwaannya kepada Allah Ta’ala, ketaatannya terhadap ajaran Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan kepatuhannya pada setiap perintah dan larangan yang bersumber dari Islam. Jelas sekali bahwa kesuksesan seorang muslim itu diukur dari akhiratnya, bukan dunianya.
Sinetron-sinetron tersebut sudah mencuci ribuan otak remaja muslim dan mengalihkan mereka dari urusan akhirat yang paling penting, dan hanya melihat dan berfokus pada urusan dunia yang fana dan sementara ini. Sebuah media seharusnya menuturkan dan merefleksikan fakta yang terjadi di masyarakat. Namun yang terjadi, sebuah masyarakat yang rata-rata penghasilan perharinya cuma Rp 30 ribu malah dicekokin dengan gambaran kehidupan glamour yang serba enak binti mudah. Akhirnya, kita cuma bisa nonton doang dan ngimpi. Harapan yang nggak sesuai dengan kenyataan. Maka terjadilah kontraproduktif. Udah usaha sekuat tenaga bekerja, masih aja nggak bersyukur. Nggak pernah merasa puas.
Sobat gaulislam, sinetron-sinetron itu pun akhirnya bikin otak otak para remaja cuman diisi dengan cinta dan pacaran, bukannya diisi dengan ilmu pengetahuan agama yang jauh lebih penting. Sinetron udah bikin pandangan kalian jadi sempit banget terhadap masalah yang tengah terjadi. Terbukti, sekarang remaja udah nggak peduli lagi dengan lunturnya akhlak dan akidah para remaja muslim di Indonesia yang terjadi secara drastis. Para remaja udah nggak mau peduli lagi dengan situasi politik dalam negeri yang kacau balau, udah nggak ambil pusing lagi sama masalah kemiskinan yang nggak ada selesai-selesainya terjadi di negeri ini. Udah pada sibuk mikirin cinta dan pacaran sih. Udah lupa!
Padahal guys, Islam melarang keras perbuatan yang disebut pacaran ini, karena dapat menjerumuskan kita pada perzinahan. Allah Ta’ala sudah menjelaskan hal ini sejelas ikan yang kelihatan dari luar akuarium. Dalam surat al-Israa’ ayat 32 Allah Ta’ala berfirman, “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”
Oya, dampak yang timbul dari perzinahan juga banyak banget dan semuanya negatif! Hamil di luar nikah, penularan penyakit seksual berbahaya, aborsi, dan hal-hal lain yang nggak banget deh kalau sampai terjadi sama remaja muslim seperti kamu. Belum lagi, berzina itu dosanya gede lho! Jangan sampai deh!

Nyari untung dengan cara yang salah
Mungkin kalian bakalan bertanya-tanya, kenapa sih sinetron-sinetron yang kualitasnya nggak bagus-bagus amat dan pesannya kacau itu masih tayang? Tentu aja penyebabnya karena sinetron-sinetron itu mampu mengeruk keuntungan yang sangat besar. Terbukti, sinetron-sinetron tersebut menduduki posisi rating yang tinggi, dan iklannya pasti bejibun. Makin lama durasi tayang sinetronnya, makin banyak iklan. Sementara iklan buat tayangan prime time yang memiliki rating tinggi pasti mahal banget.Hitungannya per detik lho. Silakan hitung sendiri keuntungannya.
Sobat gaulislam, tentu aja para produser sinetron-sinetron sampah semacam ini nggak mau begitu aja ngelepas ladang emas yang gede banget ini. Lihat aja, dari dulu yang namanya sinetron pasti nggak ada matinya. Mati satu, tumpahlah darah suci itu, eh, maksudnya mati satu tumbuh seribu, begitu pepatahnya.
Padahal Bro en Sis, mengeruk keuntungan dengan cara seperti itu tentu aja salah. So, dengan tetap ditayangkannya sinetron-sinetron tersebut, tentu aja makin banyak anak-anak dan remaja yang teracuni pikirannya. Belum lagi, bisa mengurangi produktivitas. Contohnya aja, kamu yang seharusnya belajar malah nonton GGS, atau seorang ibu yang seharusnya mengurus rumah tangga malah nonton sinetron terus, jadi mengurangi produktivitas deh.
Jelas banget kan, dampak dampak negatif yang dapat ditimbulkan. Namun masalahnya ya itu tadi, sinetron-sinetron beginian itu mantep banget buat nebelin kocek. Itu sebabnya, ditayangin terus deh. Orientasinya cuma duit, duit, dan duit.
Kenapa hal ini bisa terjadi? Karena, jelas sekali sodara-sodara, negara kita ini masih memelihara subur paham materialisme dan kapitalisme, bahwa setiap hal pasti dipandang dari sisi materi. Maka terciptalah sebuah kumpulan masyarakat yang materialistis. Cuma mikirin uang, setiap perbuatannya pun pasti berlandaskan keuntungan materiil yang bisa diraih. Akhirnya, aspek aspek lain pun diacuhkan. Norma masyarakat lewat, aturan agama pun akhirnya diabaikan. Alasannya sih, karena agama tidak boleh ikut mengurus urusan bernegara, karena agama hanya dipandang sebagai sebuah ajaran yang hanya mengatur serangkaian ritual yang disebut ibadah.
Stupid bener dah. Mereka nggak ngerti, bahwa sebenarnya Islam itu adalah jalan hidup yang sempurna banget, semuanya diatur. Bener lho, dari cara keluar WC sampai aturan bernegara, semua ada dalam Islam. Sebagai muslim, kewajiban kita adalah menjalankan semua itu tanpa keraguan dan kecuali. Bukan cuma mengambil bagian enak-enaknya aja dan membuang yang lainnya, seperti yang dilakukan pemerintah kita. Hukum yang mengatur ibadah haji diambil (karena subur fulus), hukum bernegara dibuang. Padahal Allah Ta’ala sudah berfirman dengan sangat tegas dalam surat al-Baqarah ayat 208, “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”
Sobat gaulislam, sinetron-sinetron yang merusak seperti itu tidak mungkin akan diijinkan untuk ditayangkan dalam sistem Islam. Sebelum izin aja mungkin udah ditonjok tuh produsernya. Jelas aja, masa’ cari keuntungan dengan merusak akhlak orang lain, terutama anak-anak dan remaja. Semua itu bisa terwujud jika kita ummat Islam mau menegakkan negara yang berlandaskan Islam dan sesuai banget sama Islam, yakni Khilafah Islamiyah. Percaya deh, nggak bakalan ada kedamaian di muka bumi ini tanpa adanya negara khilafah yang berlandaskan Islam. Selama negara masih mengusung sistem kapitalisme-sekulerisme yang diadopsi dari Barat, maka jangan harap GGS berhenti tayang. Eh salah, maksudnya jangan harap keadilan dan ketentraman di muka bumi ini bisa ditegakkan.
Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah diri kita sendiri dan keluarga serta teman-teman kita dari keracunan pikiran yang sedang marak terjadi? Ada banyak sekali cara yang dapat dilakukan, salah satunya adalah JANGAN DITONTON. Yap, cara ini cukup ampuh lho. So, dengan tidak menonton, pikiran kita tidak akan terkontaminasi dan secara otomatis ratingnya akan turun. Kalau rating turun, berarti rugi. Kalau rugi, berhenti tayang deh. Lebih ampuh lagi kalau ngajak temen rame-rame untuk memboikot tontonan-tontonan yang berpotensi merusak akidah dan akhlak remaja muslim.
Cara berikutnya adalah dengan berdakwah. Ya, sampaikan apa yang kalian tahu tentang bahaya yang didapat dari tetap mengkonsumsi sinetron-sinetron tersebut. Sampaikan kepada teman-teman atau keluarga kalian yang masih menonton, bahaya-bahaya yang bisa terjadi pada isi otak kita jika sinetron-sinetron dengan pesan yang menyesatkan itu terus kita tonton.
Jadilah remaja yang smart, yang bertutur dan bertindak sesuai dengan apa yang telah diajarkan oleh Islam, bukannya remaja stupid yang nggak ngerti apa-apa selain cinta-cintaan atau remaja over stupid yang membangga-banggakan pemahaman pemahaman dari Barat yang udah deh, nggak cocok banget diterapkan oleh seorang muslim, karena pasti berujung kehancuran! Remaja dengan Islam, adalah remaja yang paling pinter, paling smart. Jadi jangan malu, berbanggalah jadi muslim!

Sikudi, Sisi lain Dataran Tinggi Dieng yang masih jarang di jamah



Sikudi, Sisi lain Dataran Tinggi Dieng yang masih jarang di jamah
Sikudi, apa itu Sikudi ? masih jarang yang mengetahuinya.
Sikudi sebenarnya adalah sebuah Gunung yang berada di kawasan Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah. Mengapa saya langsung menyebutkan bahwa Dataran Tinggi Dieng ada di Jawa Tengah bukan Wonosobo, Jawa Tengah?  karena  Dataran Tinggi Dieng tidak hanya terletak di Wonosobo melainkan terletak kurang lebih di 5 Kabupaten sekaligus yaitu, Wonosobo, Banjarnegara, Kendal, Batang , dan Pekalongan. Namun Sikudi sendiri terletak di Desa Kreo Kecamatan Kejajar Kabupaten Wonosobo.
 Kembali ke Gunung Sikudi, Gunung Sikudi sendiri memiliki ketinggian kurang lebih 2237 mdpl Hampir sama dengan semua tinggi Gunung-Gunung di Dataran Tinggi Dieng yang rata-rata memiliki tinggi 2000 mdpl. Di puncak Gunung Sikudi masih terdapat banyak pepohanan, tumbuhan kecil, dan rerumputan yang masih tumbuh subur, mengapa masih bisa tumbuh subur? Karena berbeda dengan Bukit Sikunir dan Gunung Prau yang tumbuhannya sudah jarang tumbuh Gunung Sikudi masih belum sepopuler Gunung Prau dan Bukit Sikunir. 
            Kalau berbicara soal pemandangan dan sunrisenya Sikudi tidak kalah dengan kedua tempat favorit untuk melihat sunrise yaitu Gunung Prau dan Bukit Sikunir, bahkan menurut saya lebih bagus di Sikudi karena Telaga Menjer salah satu telaga yang ada di Wonosobo berada di kaki Gunung ini, Telaga Menjer  jika di lihat dari Gunung ini tampak lebih bagus dan hamparan lampu-lampu rumah pada malam hari di Wonosobo .  Dan juga tumbuh-tumbuhan yang masih tumbuh subur yang membuat pemandangannya tambah indah. Untuk sunrisenya, Sikudi Hampir sama dengan sunrise di sikunir karena ternyata Gunung ini berada sangat dekat dengan sikunir tepatnya berada di sebelah baratnya. Dari Gunung ini juga sikunir terlihat, dan juga seperti halnya sikunir dari Gunung ini ada dapat melihat Gunung-Gunung lainnya seperti, Gunung Sindoro, Gunung Kembang, Gunung Prau, Gunung Merbabu, Gunung Telomoyo, bahkan Gunung Lawu yang berada di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur juga terlihat. Tak hanya sunrise dan pemandangannya yang indah, jika beruntung kita bias melihat gugusan bintang yang amat indah yang disebut Milky Way atau Galaksi Bima Sakti.
            Untuk menuju puncak Gunung ini bias lewat desa kreo, di sana sudah terdapat basecamp dengan retribusi hanya Rp. 5000 per orang dan pakir sepeda motor Rp. 2000 per motor, kita bias mendaki Gunung ini. Untuk jalan menuju puncaknya mudah namun jauh sekitar 3-4 jam bias sampai di puncaknya. Dari basecamp ke pos 1 bisa ditempuh kurang lebih 30 menit karena masih jalan landai yang sering di lewati petani. Dari pos 1 ke pos 2 bisa ditempuh kurang lebih 1 jam karena merupakan kawasan hutan yang tidak begitu menanjak. Dari pos 2 ke pos 3 kurang lebih 1 jam. Dan pos 3 sampai tempat camp kurang lebih 1 setengah jam.  Sepanjang jalan menuju puncak masih di temukan ladang milik warga sekitar sampai  setengah dari jalan ke puncak, dan setelah melewati ladang warga kita harus melewati hutan sampai ke tempat campnya. Terdapat 3 pos di Gunung ini dengan jarak antar pos berbeda-beda, di pos 3 terdapat gardu pandang untuk istirahat dan melihat pemandangan yang indah dari gardu pandang. Seperti halnya di Gunung lainnya anda tidak boleh merusak alam. Karena jika alam di rusak akan sulit di temukan tumbuhan lagi seperti di Gunung lainnya, karena Gunung Sikudi masih tergolong gunung yang ASRI dan jarang di daki. Jika ingin merasakan ketenangan datanglah ke sini.
Rasakan sensasi di sisi lain Dataran Tinggi Dieng walaupun jalannya cukup panjang dan melelahkan kita tidak akan kecewa dengan pemandangan dan  Gunung Sikudi adalah Gunung indah namun masih jarang di jamah manusia, oleh karena itu kita harus menjaga keindahan Gunung ini.

Sunrise dari Gunung Sikudi
Kerlap-kerlip lampu warga di Kabupaten Wonosobo








Postingan artikel/Foto ini diikutsertakan dalam #NJFWonosobo2015
https://www.facebook.com/njfwonosobo